Membangun Aset!

Aset? Lho kok bangun aset ya? Kenapa ‘aset’ pula yang dibahas nih. Ini adalah sebuah kilas balik saya dan seorang teman saya (sebut saja namanya Koko). Maklum dulu kami pernah aktif disebuah Multi Level Marketing (MLM) produk perlebahan dan kesehatan dari High Desert (HD). Selang 4 tahun berlalu, saya walaupun sempat vakum tidak aktif [sekitar 1,5 tahun], masih terus di bisnis ini, maklum saya juga masih punya beberapa pelanggan tetap saya, yang merasakan manfaat dari produk-produk HD dan masih setia menggunakannya sehari-hari terutama Dinamic Trio (Bee Pollen, Bee Propolis & Royal Jelly), saya pun tambah ‘kekeh’ untuk terus meneruskan bisnis ini [mulai bangkit dari awal lagi].

Beda dengan si Koko, yang setelah 1 tahunnya di HD, dan mulai dihinggapi penyakit kronis ‘malas’ akhirnya dia berhenti dari bisnis waralaba murah ini (baca: Business School, Robert T. Kiyosaki) dan hanya mengandalkan pendapatan dari Kuadran Kiri (lagi-lagi minjam istilah Kiyosaki dalam Cashflow Quadrant), alias Cuma ‘mengharapkan’ gaji sebagai seoarang karyawan. Namun, seiring jaman berlalu, dan masa lalupun berlalu, sang sahabat saya itu pun sekarang sudah berubah. Kini hari-harinya diisi dengan aktivitas-aktivitas untuk membangun aset. Loh? Aset apaan?

Maksudnya aset disini adalah ia kembali mencoba sebuah bisnis waralaba murah alias MLM kembali, walaupun bukan di perusahaan yang lama, mungkin dia mulai merasakan tidak enaknya menjadi karyawan dimana kita menukarkankan waktu kita untuk uang, alias kita bekerja untuk uang dan mulai membangun asetnya di bisnis MLM barunya [sebuah perusahaan MLM dari China]. Selain ada target yang tidak dapat dicapainya dengan bekerja ia yakin di bisnis barunya ini dia akan berhasil, mulailah ia serius dengan membangun asset bisnisnya. Nah asset inilah nantinya yang diharapkan akan menghasilkan pendapatan pasif baginya. Perlahan tapi pasti men begitulah yang tersirat dari setiap ucapannya. “Kita harus membangun sistem, dimana uang yang akan bekerja untuk kita” tambahnya.

Sedikit mengulang, saya jadi teringat sebuah data statistic tentang cita-cita [impian] kebanyakan orang;

60% Manusia mempunyai impian yang samar-samar = Hidup mengandalkan gaji pokok

17% Manusia tidak mempunyai Impian sama sekali = Hidup dibawah belas kasihan orang lain

10% Manusia mempunyai impian yang hanya dalam pikiran mereka = Hidup 3x dari gaji pokok

3% Manusia mempunyai impian yang jelas terperinci dan divisualisasikan = Hidup sangat sukses

Nah, anda berada di bagian mana, anda lah yang tau! Pilihan ada ditangan kita, tinggal kita melaksanakannya.

Meminjam istilah David J. Schwartz dalam bukunya ‘Berpikir dan Berjiwa Besar’: Sembuhkan diri Anda dari dalih Penyakit Kegagalan. BISA TIDAK BISA, HARUS BISA, kata Leader saya Julianto Ekaputra.

Leave a Reply